Berikut ini ada kutipan opini seorang senior saya dalam suatu forum aspirasi diskusi (dengan sedikit editing)
…….Tapi memang secara teoritis (&praktis), ramal-meramal gempa masih belom terjangkau alam pikiran manusia. Masih banyak “sifat¶meter” gempa yg belom terjawab. Dalam meramal sesuatu paling tidak ada 3 parameter yg harus terjawab : dimana, kapan & berapa besar. Kesemuanya ini susah terjawab secara pasti&presisi. Memang ada beberapa indikator yg bisa dijadikan pegangan seperti diatas, melihat time-series gempa2 disekitar sesar dll. Tetapi, ketidak-pastian (uncertainty) relatif besar. Sehingga mungkin drpd menghabiskan waktu, tenaga&pikiran meramal2 gempa, bukankah lebih baik untuk menyiapkan diri (dalam hal ini meneliti, dll) menghadapi gempa tsb, toh tujuan semua penelitian untuk kemashalatan manusia.
….
……..tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini
, hanya soal waktu saja. Tetapi mungkin dalam konteks ramal-meramal gempa bumi, masih banyak faktor, parameter & sifat yg belom dipahami. Taruhlah, saya bisa bilang di Kalimantan akan terjadi gempa ( dan ini saya yakin ada, contohnya ya kemaren itu di Singkawang), tetapi kapan, dimana tepatnya dan berapa besar nya…ini yg belom bisa saya jawab hehehe. Bukankah ramal-meramal tidak hanya butuh kualitatif saja, tetapi juga harusnya kuantitatif (terukur)…..
juga kutipan yg saya temukan dulu sekali dari sebuah blog/web yg mohon maaf saya lupa sumbernya (bila ada yg merasa kutipan ini milik dia mohon ijin mengutip) dengan sedikit editing juga:
Beberapa ramalan gempa yang pernah dilakukan para ahli Amerika, Rusia, Cina dan Jepang adalah dengan meneliti frekuensi kejadian gempa besar di masa lalu untuk menemukan pola yang berguna buat membaca kemungkinan gempa di masa depan. Pada saat yang sama, mereka mengkaji kecepatan dan tingkat akumulasi energi pada bebatuan akibat gerakan lempeng bumi. Upaya teoritis dibalik laboratorium ini tidak berhasil di lapangan ketika dipraktekkan di daerah-daerah rawan gempa.
Satu-satunya ramalan yang dinilai sukses terjadi pada pada 1975. Saat itu, berdasarkan tanda-tanda pendahuluan, pemerintah Cina berhasil memberikan peringatan kepada warganya. Hasilnya, ketika gempa berkekuatan 7,3 skala richter mengguncang Kota Haicheng di wilayah Yingkouw, jumlah kerugian dan korban bisa ditekan.
Belakangan ramalan itu lebih bersifat kebetulan ketimbang hasil pengamatan yang terencana. Buktinya, setahun kemudian, gempa yang tak kalah dasyat mengguncang Tangshan di Cina bagian utara. Sebelum kejadian, pemerintah Cina dan ahli gempa Cina tak berhasil mendeteksi gejala apa pun. Evakuasi tak sempat dilakukan. Akibatnya, sekitarnya 240 ribu penduduk Tangshan terkubur reruntuhan.
Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) malah pernah membuat ramalan yang menggelikan. Pada tahun 1983, lembaga itu menyatakan, gempa berkekuatan sedang bakal mengguncang wilayah Parkfield , California . Prediksi itu disusun berdasarkan enam kali gempa berkekuatan 6 skala Richter yang terjadi pada rentang waktu rata-rata 22 tahun di sana . Untuk mengurangi resiko salah ramal, USGS membuat waktu terjadinya gempa sedikit tidak pasti. Gempa, menurut pakar USGS, bakal terjadi diantara tahun 1983 dan 1993. Seperti mau pamer kepada dunia, saat itu Amerika pun mengerahkan banyak ahli untuk meneliti dan memonitor kawasan tersebut. Alat pemantau paling maju serta alat peringatan dini dipasang di seluruh pelosok Parkfield. Namun, sampai tahun 1993, gempa ternyata tak kunjung datang.
Kasus Parkfield sempat mengikis keyakinan para ahli dan penentu kebijakan di Amerika. Dua pakar gempa dari University of California, Los Angeles, David Jackson dan Yan Kagan, seperti mewakili isu keraguan itu. Keduanya menolak ramalan-ramalan lama dengan menyodorkan fakta-fakta baru. Katanya, daerah-daerah di Amerika yang dinyatakan “aman” gempa malah mengalami guncangan lima kali lebih sering ketimbang daerah yang dinyatakan berbahaya. “Tak seperti badai dan letusan gunung api, gempa jauh lebih sulit diduga”, ujar Jackson .
Trus kesimpulannya apa dong?
Well, saya adalah orang yang percaya suatu hari nanti gempabumi dapat diprediksi. Tapi memang saat ini kenyataan yang ada adalah gempabumi masih sulit diprediksi. Mungkin dibelahan bumi lain sana sudah ada orang yg bisa memprediksi kapan dimana seberapa besar gempabumi secara ilmiah dan tepat, namun masih menunggu waktu yg tepat untuk mengabarkan ke khalayak bahwa formula dan metodenya hampir 100 persen tepat untuk memprediksi kejadian gempabumi. Ato bisa juga karena beliau masih belum yakin formula atau metodenya sudah sempurna, sehingga masih terus menyempurnakan dan masih terus melakukan penelitian dan pembuktian sehingga belum dilaunching juga sampai saat ini.
Soal prediksi-prediksian gempabumi sudah banyak sih metodenya, tapi masih belum bisa sampai tepat kapan, dimana, seberapa besar. Selalu masih dalam kisaran range atau jangkauan.
misal, berdasarkan penelitian selama bertahun2 sebuah institusi gempabumi ternama, gempa kemungkinan terjadi di daerah sekitar xxx dalam kurun waktu 30 tahun dari sekarang dengan kekuatan sekitar 7.0 -7.5 SR. daerah xxx yang dimaksud sendiri juga masih berupa wilayah dengan luas segmen ratusan kilometer persegi. bayangkan, range waktunya aja udah sebegitu besarnya, bukan prediksi kalo itu sih menurut saya, belum lagi masih ada range wilayah terjadi sama range kekuatannya… makin absurd lah bentuk prediksi di atas menurut saya.
Jadi kapan kita bisa memprediksi gempa secara “hampir” tepat.. Ntah lah… nunggu Juragan jadi Doktor dulu kali… hehehe… *ngarep.
Catatan:
- Sebenarnya Juragan pengen sharing tentang metode2 perhitungan prediksi/potensi gempa yg ada kayak study precursor, metode probabilitas, b-value, metode radon dsb (eh itu semua metode prediksi gempa bukan yah…? sotoy banget ah juragan) sayang ilmu seismologi masih cetek, ketimbang salah dan bikin malu mending diem aja hehe,,,
- Selain ilmiah ada juga metode prediksi gempabumi yg katanya masih ilmiah tapi masih meragukan buat juragan kayak teori pasang surut bulan sama teori konjungasi planet2 (kalo ga salah intinya pergerakan benda2 planet di sekitar bumi bersama gravitasinya masing2 menyebabkan fenomena pasang surut fluida di bumi termasuk didalamnya magma yg juga adalah fluida yang akhirnya menyebabkan lempeng2 makin aktif karena magma dan fluida sejenis di dalam bumi mengalami pergerakan… hmm..)
- lalu ada juga metode medan elektromagnetik, dimana katanya sebelum gempabumi, timbul anomali gelombang elektromagnetik dimana katanya sekian detik sebelum gempa medan elektromagnetik di daerah sekitar pusat gempa tiba2 hilang sesaat… perlu contoh kasus, penelitian dan pembuktian lebih lanjut dan lebih dalam…
- lalu ada juga metode prediksi yg kurang ilmiah seperti metode perilaku hewan2 (sebelum gempa hewan2 berlaku aneh… sebagai pertanda gempa mau dateng) yg terkenal ya katanya ikan lele sensitivitasnya tinggi terhadap kejadian gempa.. ntah lah…
-dan jangan dilupakan metode prediksi ngawur ga jelas seperti: kemunculan Halo matahari, kemunculan awan vertikal dsb…
Tapi dari kesemua itu, yang paling menyebalkan adalah ketika orang yang ga punya background displin ilmu kebumian tapi ngomong soal prediksi gempabumi ke khalayak ramai, sok tau dan bikin kepanikan massal…. *cih
Trus kesimpulannya apa? Gempa bisa diprediksi nggak?
Belum bisa diprediksi secara tepat. Jadi jangan percaya isu apapun yang menyatakan gempa akan terjadi jam sekian di daerah sekian dengan kekuatan sekian. Benar2 kebohongan!
.